Tentang Qiblati
Para pembaca yang kami cintai, akhir-akhir ini sebagian agen dan pembaca menanyakan kepada redaksi tentang isu-isu yang menyudutkan syekh Mamduh dan majalah Qiblati. Diisukan bahwa syekh Mamduh adalah takfiri, khariji atau apapun istilahnya yang intinya menunjukkan bahwa beliau bukan seorang sunni yang salafi.
Maka kami katakan kepada mereka bahwa manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa kita wajib menerima bukti dan menepis isu, menghukumi seseorang berdasarkan apa yang sudah ia lakukan bukan dengan sesuatu yang belum ia lakukan, mendahulukan husnuzhan selama ada kemungkinan untuk itu, sebab hukum asal seseorang itu selamat manhaj dan akidahnya sampai ada dalil yang membuktikan kebalikannnya atau kesalahannya.
Keberadaan Syekh Mamduh sebagai ahli Sunnah bisa dibuktikan dengan: 1) kitab-kitab yang ditulisnya, antara lain: Gen Syiah, Kuburan Agung, dan Musuh-musuh al-Qur'an. 2) Makalah-makalah dan jawaban konsultasi agama dan keluarga yang dimuat di majalah Qiblati. 3) Program-program Daurah Qiblati yang menghadirkan pemateri-pemateri ahlus sunnah dan mengundang da'i-da'i ahlus sunnah. 4) Program pengiriman da'i untuk ikut daurah di Makkah. 5) Kesaksian dan tazkiyah para ulama tentang beliau dan sekaligus tentang Qiblati yang dipimpinnya.
Qaidah ahlus sunnah mengatakan: al-Yaqin la yazulu bisy-syakk (Keyakinan itu tidak hilang karena keraguan). Bukti adalah yakin dan isu adalah ragu, maka orang yang ingin selamat harus mengikuti bukti dan menepis isu. Tidak beriman seseorang sebelum ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya. Begitu yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Maka sebagai bentuk nasehat kepada para pembaca dan saudara-saudara seiman kita sampaikan bagian pertama dari Komentar Para Ulama Dan Tokoh Penting Makkah Al-Mukarramah Tentang beliau dan Majalah Qiblati:
1. Syaikh DR. Tholal Abu an-Nur, Mudir Masyru' Ta'zhimi Baladillahi al-Haram
Syaikh Thalal Abu an-Nur berkata:
"Aku telah membaca artikel-artikel dari majalah Qiblati, dan aku mendapatinya berada diatas manhaj salafus shalih. Inilah yang kami ketahui dari Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi, tentang lurusnya manhaj, dan bersihnya aqidah beliau. Maka dengan kesempatan ini aku haturkan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada para pengurusnya, seraya memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada mereka dan mengokohkan langkah-langkah mereka." (2 Dzul Hijjah 1428 H)
2. Syaikh DR. 'Abdurrahman Qashshash, Mufti Masjidil Haram Makkah al-Mukarramah
Syaikh 'Abdurrahman Qashshash berkata:
"Sesungguhnya apa yang kualami sendiri tentang majalah Qiblati membuatku merasa senang dan berbahagia, dimana aku mendapatkan semangat para pengurusnya dalam menyebarkan sunnah dan menghalangi kebid'ahan, serta membersihkan aqidah dan ikut andil dalam membantu manusia semampu mereka kepada jalan tersebut. Cukuplah sebagai contoh dilaporkannya kepadaku sebagian imigran Indonesia yang dilepaskan dari kedzaliman. Dimana hal ini menunjukkan bahwa majalah tidak hanya berkepentingan untuk mendistribusikan majalah saja, namun mereka juga memperhatikan saudara-saudara mereka dan bekepentingan dengan urusan-urusan mereka. Maka mereka menjadi sebaik-baik contoh bagaimana para da'i ikut merasakan kesusahan dan permasalahan kaum muslimin. Maka mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala membalas mereka dengan kebaikan. Juga aku khususkan ucapan terima kasihku kepada Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi, dan Ustadz Agus Hasan Bashari, demikian pula anggota majalah yang lain, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi mereka dan kesungguhan mereka yang baik." (1 Dzulhijjah 1428 H)
3. Syaikh DR. Abdul Wadud Hanif, Mantan Imam dan Khatib Masjid Nabawi Madinah al-Nabawiyyah
Syaikh Abdul Wadud Hanif berkata:
"Sesungguhnya orang yang mengikuti kesungguhan majalah Qiblati dalam berdakwah kepada Allah, wajib baginya untuk menghaturkan ucapan syukur kepada para pengurusnya yang mencurahkan segenap tenaga yang mampu mereka keluarkan dalam mendidik manusia. Aku ucapkan syukur terima kasih kepada Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang telah ikut andil dalam menyebarkan majalah ini dan mengenalkannya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala membalasnya dengan sebaik-baik balasan." (4 Dzulhijjah 1428 H)
4. Syaikh DR. Yahya Zamzami, Mantan Wakil Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Ummul Qura Makkah
Syaikh Yahya Zamzami berkata:
"Sesungguhnya orang yang memperhatikan majalah Qiblati akan merasakan bahwa majalah ini bukan hanya sekedar majalah, namun dia adalah universitas yang para pembaca lulus darinya dengan mengemban berbagai macam ilmu syar'i. ini adalah termasuk bagian dari taufik Allah kepada para pengurusnya. Dan aku berwasiat kepada mereka untuk terus berada diatas manhaj yang penuh berkah ini. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala mengarahkan seluruh usaha mereka kepada kebaikan." (3 Dzulhijjah 1428 H)
5. Syaikh DR. Muhammad as-Syamrani, Musyrif Haiah Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Syaikh Muhammad as-Syamrani berkata:
"Sesungguhnya majalah Qiblati adalah sebuah majalah yang memberikan sumbangsih dan turut andil dalam menyebarkan sunnah Nabi yang shahih, serta meluruskan keyakinan kaum muslimin. Dan sesungguhnya orang yang mengetahui manhaj orang-orang yang mengurus majalah Qiblati akan merasa tenang, yaitu bahwa majalah ini berada di atas manhaj Salafus Shalih. Majalah ini telah sampai kepada kedudukan dan tingakatan yang besar. Allah subhanahu wa ta’ala telah menuliskan penerimaan baginya di hati para pembacanya. Dan ini adalah sebuah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kami ucapan syukur terima kasih kepadanya, dan kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar senantiasa memberikan pertolongan kepada mereka." (4 Dzulhijjah 1428 H)
Akhirnya kita katakan kepada saudara-saudara seiman: marilah kita selamatkan diri kita sebelum kita selamatkan orang lain. Marilah kita mengamalkan sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam dan kita cintai saudara-saudara kita yang seiman.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah ditanya: Apakah Islam itu? Beliau menjawab:
أَنْ يَسْلَمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ أَنْ يَسْلَمَ اْْلُمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِكَ وَ يَدَكَ
"(Yaitu) engkau menyerahkan hatimu kepada Allah, dan orang-orang Islam selamat dari gangguan lisan dan tanganmu." (HR. Ahmad 4/114. Lihat Silsilah al-Shahihah: 2/50)


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda